Tampilkan postingan dengan label akal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akal. Tampilkan semua postingan

BUKTI KEBESARAN ALLAH PADA AKAL MANUSIA

Nuurislami.blogspot.com Berikut beberapa hasil penelitian tentang otak atau akal yang menunjukkan perilaku akal bereaksi positif terhadap suatu rangsangan yang bersifat spiritual. Penelitian ini banyak dilakukan di dunia barat, mereka ingin mengetahui hubungan korelasi antara aktivitas otak dengan aktivitas keagamaan serta sisi kejiwaan dan tingat kecerdasan seseorang, dan hasilnya sungguh sangat mengejutkan. Penelitian itu banyak mengungkapkan bahwa otak atau akal selalu merespon positif pada apa saja yang berkaitan dengan hal bersifat spiritual keagamaam, terutama ketika itu dikaitkan dengan ayat-ayat suci Al Quran. Otak baru mau menunjukkan aktivitas yang signifikan ketika ia diperdengarkan dengan alunan bacaan al quran, mulai dari menghilangkan stress hingga membuat seorang bayi menjadi lebih baik daya tangkapnya. Otak ternyata tidak bisa berkembang sendiri dan tidak bisa bertindak sendiri, ia membutuhkan rangsangan, mulai dari hal-hal yang bersifat teknis, teoritis hingga yang bersifat spiritualis. Dan untuk membuatnya semakin dahsyat lagi, ada baiknya anda membaca serangkaian hasil observasi para ahli berikut ini dan renungkan makna ayat firman allah berikut ini:

Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204).

1. Hubungan aktivitas spiritual dengan system kerja otak

 

Sebuah ah penelitian medis baru-baru ini mengungkapkan adanya serangkaian perubahan dalam tubuh manusia selama ia dalam keadaan berdoa (shalat) atau meditasi. Menurut penelitian tersebut, perubahan pertama yang tampak adalah adanya integrasi pikiran sepenuhnya dengan alam semesta setelah lima puluh detik memulai doa (shalat) atau meditasi. Studi yang dilakukan oleh Ramchandran, seorang peneliti Amerika, bersama-sama dengan sekelompok peneliti lainnya menunjukkan bahwa laju pernapasan dan konsumsi oksigen dalam tubuh manusia berkurang selama doa (shalat) dalam kisaran antara 20 dan 30%, di samping resistensi kulit meningkat dan darah tinggi lebih membeku.
Hasil penelitian tersebut melaporkan bahwa sebuah gambar yang ditangkap melalui CT scan menunjukkan adanya aktivitas kerja otak yang sangat menakjubkan selama seseorang itu berdoa (shalat). Tercatat bahwa gambar otak seseorang dalam keadaan berdoa (shalat) atau meditasi berbeda dengan gambar (otak) dalam keadaan normal. Aktivitas sel-sel saraf di otak telah berkurang dan terdapat warna mengkilap yang muncul di radiologi. Ramchandran menegaskan bahwa hasil gambar ini merupakan bukti ilmiah mengenai apa yang yang disebut “spiritual transenden” dan kehadiran agama di dalam otak, yang membawa dampak terhadap seluruh anggota, seperti otot, mata, sendi dan keseimbangan organ-organ tubuh. Ia juga menambahkan bahwa semua anggota tubuh mengirim sinyal ke otak selama seseorang berdoa (shalat) atau meditasi, hal inilah yang menyebabkan aktivitas otak meningkat, sehingga otak kehilangan kontak dengan tubuh sepenuhnya hanya menjadi pikiran murni dan menarik diri dari alam dunia ke dunia lain. Pada gilirannya, penelitian tersebut merupakan upaya yang signifikan dari para ilmuwan untuk mengungkap batas hambatan antara manusia dan rahasia otak.



2. Pengaruh bacaan al Qur’an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya.

 

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.


3. Hubungan Alunan ayat suci al Quran dengan Kecerdasan Anak Baru Lahir

 

Ternyata Al-Qur’an dapat merangsang tingkat inteligensia (IQ) anak, yakni ketika bacaan ayat-ayat Kitab Suci itu diperdengarkan dekat mereka. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an dapat meningkatkan IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu. Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang. Penulis pun mempunyai seorang keponakan yang lahir tahun 2002. Entah ada kaitan dengan dengan argumentasi di atas, yang jelas sebelum umurnya satu tahun, ia sering baru bisa tidur bila di sampingnya diperdengarkan suara orang mengaji melalui tape recorder. Seperti diketahui, dengan mendengarkan musik, detak jantung bayi menjadi teratur. Malah untuk orang dewasa akan menimbulkan rasa cinta. Hanya arahnya tidak tentu. Sedangkan Al-Qur’an, selain itu, sekaligus menimbulkan rasa cinta kepada Tuhan Maha Pencipta. Jadi, bila bacaan Al-Qur’an diperdengarkan kepada bayi, akan merupakan bekal bagi masa depannya sebagai Muslim, dunia maupun akhirat. Dalam musik terkandung komposisi not balok secara kompleks dan harmonis, yang secara psikologis merupakan jembatan otak kiri dan otak kanan, yang output-nya berupa peningkatan daya tangkap/konsentrasi. Ternyata Al-Qur’an pun demikian, malah lebih baik. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan benar, dalam artian sesuai tajwid dan makhraj, Al-Qur’an mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak. Ingat, neoron pada otak bayi yang baru lahir itu umumnya bak “disket kosong siap pakai”. Berarti, siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena dari kehidupannya. Pada gilirannya terciptalah sirkuit dengan wawasan tertentu. Istilah populernya apalagi kalau bukan “intelektual”. Sedangkan anyaman tersebut akan sernakin mudah terbentuk pada waktu dini. Neoron yang telah teranyam di antaranya untuk mengatur faktor yang menunjang kehidupan dasar seperti detak jantung dan bernapas. Sementara neoron lain menanti untuk dianyam, sehingga bisa membantu anak menerjemahkan dan bereaksi terhadap dunia luar. Selama dua tahun pertama anak mengalami ledakan terbesar dalam hal perkembangan otak dan hubungan antar sel (koneksi). Lalu setahun kemudian otak mempunyai lebih dari 300 trilyun koneksi, suatu kondisi yang susah terjadi pada usia dewasa, terlebih usia lanjut. Makanya para pakar perkembangan anak menyebut usia balita sebagai golden age bagi perkembangan inteligensia anak.


CIRI MANUSIA BERAKAL


Apa peran akal sebenarnya dalam kehidupan manusia secara keseluruhan, mengapa Allah mengistimewakan manusia yang berakal atau seperti yang biasa disebut dalam al quran beberapa kali ditujukan pada “manusia yang berpikir”.Seberapa besar manfaat akal ini bagi manusia atau bahkan bagi keberlangsungan mahluk hidup lainnya yang ada di muka bumi ini jika memang memiliki tujuan dan manfaat.

Sebagaimana kita ketahui, manusia memiliki akal yang dinamis. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis sehingga hanya mengetahui hal-hal yang diajarkan langsung oleh Allah saja. Tapi meski manusia dibekali akal yang sempurna, organ ini dianggap masih memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Salah satu kelemahan akal manusia adalah, dalam hal mendefiniskan kata-kata yang tertera dalam al-quran, perbedaharaan kata dan kosa kata yang dimiliki akal manusia sangat terbatas atau memiliki keterbatasan, misalnya dalam mendefiniskan kata alam semesta raya, yang dimaksud al quran mungkin jauh lebih besar dan lebih luas dari apa yang dipikirkan manusia, namun itu tidak bisa dijabarkan atau didefinisikan sesuai dengan yang ada dalam al quran, karena akal manusia memiliki keterbatasan. Akal ini tidak bisa memberikan padanan kata yang sesuai dengan arti kata yang di maksud oleh al quran.

Akal memang diciptakan sebagai bagian penunjang bertugas mengarahkan organ tubuh lainnya untuk melakukan aktivitas berjalan misalnya, dengan cara mengirim signal kepada organ kaki untuk bergerak dan menuju lokasi yang diinginkan. Fungsi akal yang lain adalah ia mampu mengatur urutan suatu rangkaian dengan sangat rinci, beraturan dan bersesuaian tergantung jenis kebutuhannya. Akal juga mampu bergerak maju mundur dan bolak balik sehingga ia menemukan titik temu yang sesuai, selama ia terus menerus diberi stimulus. latihan dan pemahaman, maka akal akan mampu membawa pelakunya menjadi pribadi yang cerdas.


Disamping itu bukan hanya manusia yang dibekali akal, binatang pun memiliki otak dan akal untuk menjalankan kehidupannya. Lalu apa bedanya otak yang dimiliki manusia dengan yang di miliki hewan. Pada kenyataannya ternyata ada banyak hewan yang sudah dikategorikan hewan cerdas dan pintar setelah mereka mendapat pelatihan secara terus menerus, misalnya kera atau orang utan, burung gagak, burung kaka tua, ikan lumba-lumba, dan lain sebagainya yang dianggap memiliki kecerdasan sama halnya manusia. Lalu jika memang hewan pun memiliki akal dan mereka juga mendapat julukan mahluk cerdas yang selalu menggunakan akalnya dalam kegiatan mencari makanan, mencari tempat tinggal, mencari pasangan, berkembang biak dan lain sebagainya. ini berarti akal yang dimaksud di sini juga memiliki kesamaan fungsi dengan yang dimiliki manusia.

Lalu pada sisi mana yang membedakan dan kelebihan apa yang dimiliki akal manusia jika dibanding dengan hewan? Jawabannya, ternyata akal manusia tidak berdiri sendiri, ia bukan organ yang bisa diberi tanggung jawab besar, diantaranya mengambil keputusan dan memberi hikmah, ia memang bisa banyak belajar dan menjadi terlatih, berkat kerja keras berusaha sekuat tenaga melakukan banyak latihan, berbagai pengulangan, melakukan pengujian dan sebagainya. Namun akal tidak bisa mengambil kesimpulan, tidak bisa mengembangkan pemikiran, fungsi ini ada di hati. Hanya dalam hati yang  bersungguh-sungguh maka akan ada petunjuk dan pemahaman. Hati adalah tempat menyerap, menyaring dan mengembangkan sebuah gagasan. Hati adalah tempat datangnya hikmah.


Lalu bagaimana islam memandang tingkat kecerdasan manusia? Dari sisi apa dan dalam hal apa manusia dianggap berhasil menggunakan akalnya sehingga ia bisa dikategorikan manusia cerdas melebihi kecerdasan yang dimiliki hewan. Dalam berbagai firman-Nya Allah selalu mengajak manusia ke jalan lurus sehingga ia bisa menjadi manusia yang tinggi derajatnya. Ketinggian derajat dalam hal apa sehingga allah mengistimewakan manusia yang berakal ini untuk layak disebut mahluk yang layak dijadikan acuan atau contoh yang baik untuk diikuti oleh mahluk lain. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firmanNya:

لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ “…terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…”

Allah berfirman: إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (‘Aali ‘Imraan: 190-191)

al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firmanNya:

لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ “…terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…”

Apa saja tanda bagi orang berakal, berikut uraiannya:
Yaitu mereka mempunyai akal yang dinamis banyak digunakan untuk mengamati, mempelajari, memperhatikan, menggali dan mengkaji berbagai bidang keilmuan tentang alam semesta secara terus menerus, baik pagi siang dan malam hanya digunakan untuk menjelajahi berbagai sistem tata surya misalnya, maka dengan ijin dan petunjuk allah melalui hatinya kemudian allah menyelipkan hikmah dan intisari dari semua tindakannya itu bahwa semua proses penciptaan alam semesta ini pada akhirnya akan bermuara pada kekuasaan allah semata. Bahwa pada akhirnya manusia akan menjadi saksi akan adanya kebesaran allah di alam semesta ini.


Allah memang melebihkan kemampuan akal manusia, jauh lebih baik daripada akal mahluk lain, semata-mata karena ingin mengajak manusia mengenal lebih banyak lagi hasil karya ciptaan allah yang maha agung dan maha dahsyat ini. Allah ingin manusia mengenal lebih luas lagi dan memahami betapa banyaknya karunia allah limpahkan di alam ini, tidak hanya sebatas yang ada di muka bumi, tetapi seluruh alam ini; bumi, bulan, bintang, matahari, ribuan galaksi bertebaran di angkasa, semua itu ada maksud dan tujuannya. Peristiwa ini tidak bisa dilakukan oleh malaikat dan bangsa jin, karena sumber daya mereka terbatas. Disamping manusia juga diberikan kemampuan melihat dan membaca (melalui dzat al bashirah) lebih cermat dan teliti karena disaat bersamaan juga allah mencurahkan karunianya dalam bentuk pemahaman dan hikmah yang masuk melalui indera pendengarannya (dzat al sammi) tentang kedalaman ilmu ke dalam relung hatinya sehingga manusia dapat membuka lebih luas lagi berbagai bidang ilmu kebathinan yang sesungguhnya itu jauh lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan jauh lebih besar kemaslahatannya dibanding ilmu-ilmu pengetahuan yang didapatnya saat ini.


Allah berfirman tentang mereka: وَكَأَيِّن مِّنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
‪.‬ وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (Yusuf 105-106)

Kemudian Allah menyebutkan sifat Ulul Albaab (orang-orang yang berakal) dengan firmanNya: الَّذِينَ
يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring

Maksudnya, ketika mereka tidak putus-putusnya belajar, berusaha sungguh-sungguh mengamati dan mencari hikmah yang terpendam di dalamnya maka allah juga memberi mereka jalan pemahaman melalui hatinya. Yang dimaksud orang yang mengingat allah sambil berdiri, duduk dan berbaring adalah karena akal mereka tidak pernah tidur, akal mereka senantiasa terjaga meski raga mereka terlelap, akal mereka terus menerus tersambung dengan hati, bergerak bolak-balik dan maju mundur
sehingga akal dapat menemukan kesesuaian tahapan dan proses pada sebuah objek yang sedang diamati, proses ini akan terus berlangsung tidak mengenal waktu sehingga pada akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa di sana ada dzat yang Maha Kuasa.


Allah berfirman: وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ . وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (adz Dzaariyaat 20-21)

Qatadah berkata: “Barangsiapa yang memikirkan penciptaan dirinya sendiri, tahulah dia bahwa dirinya itu hanyalah diciptakan dan persendiannya dilenturkan semata-mata untuk melakukan peribadatan (kepada Allah)” (Tafsir Ibnu Katsir)


Tidak akan hidup hati seorang Muslim, kecuali dipelihara dengan baik oleh sang pemilik. Cara memelihara hati agar terus hidup hingga kita menghadap keharibaan-Nya tiada lain dengan senantiasa menggunakan akal untuk berfikir dan hati untuk berdzikir. Perpaduan dari kedua amalan tersebut akan menjadikan seorang Muslim menjadi insan ulul albab. Yaitu insan yang apabila melihat, mendengar, atau merasa dia berfikir. Pada saat bersamaan, saat ia berdiri, duduk, berbaring, dia terus berdzikir. Inilah manusia yang memahami hakikat kehidupan, sehingga tidak ada fokus utama baginya melainkan berlindung kepada Allah dari panasnya api neraka, karena kelalaian dan kesombongan (QS. 3 : 190, 191).

Orang demikian adalah orang yang hidup hatinya. Hanya ulul albab yang akan bisa melihat dan meyakini sepenuh hati tentang kebesaran Allah. Dan, karena itu ia akan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Jadi, hatinya dikuasai dan dikenalikan oleh ilmu (hidayah), bukan ambisi atau pretensi, sehingga kelak ia akan meraih kesempunaan nikmat di dalam surga-Nya.

 “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. 79 : 40, 41).

Jadi, untuk menghidupkan hati, setiap Muslim harus membangun tradisi dzikir dan fikir yang berkualitas. Yaitu berdzikir dan berfikir yang setiap saat menjadikan kita semakin siap menjadi Muslim kaffah, semakin bergairah dalam menegakkan kebenaran, semakin percaya diri menjadi seorang Muslim, semakin antusias mempersiapkan kematian, dan semakin rindu bertemu dengan Allah.  

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. 13 : 28).

 Tanpa dzikir dan fikir yang berkualitas, seorang Muslim rawan dalam badai gelombang kehidupan, sehingga goyah keimanan dan keislamannya. Jika hal itu benar-benar terjadi, khawatir hatinya akan mengeras seperti batu dan mendapat kemurkaan Allah.

 “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. 39 : 22).

 Orang itu bertanya, apa yang dimaksud dengan dibukakan hati itu? Nabi pun bersabda, “Yaitu kelapangan. Sesungguhnya jika cahaya telah dipancarkan ke dalam hati, maka dada menjadi lapang dan terbuka dari menerima rahmat-Nya”. Jadi, mari kita pelihara hati kita agar tetap hidup dalam naungan cahaya Ilahi. Sungguh, keimanan yang ada sekarang pada kita semua adalah nikmat tiada tara. Maka, janganlah disia-siakan.Perbanyaklah berpikir, bahwa dengan iman dalam hati, sebenarnya Allah telah janjikan surga kepada kita.Tetapi jika tidak, kita bisa salah dan tersesat.

 “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. 10 : 100).

Betapa bodohnya kita jika sudah diberi nikmat iman kemudian kita tidak syukuri dengan membiasakan dzikir dan fikir. Sementara, Allah telah memberikan peluang sangat besar bagi kita untuk meraih kebahagiaan.“Apakah kamu tidak berpikir,” demikian sindir Allah di beberapa penghujung ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Hal ini sudah dibuktikan oleh sebuah hasil riset Harun Yahya tentang tata surya:

Orbit Tata Surya


Menurut seorang Ilmu Astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti bahwa matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana. Sebagaimana komet-komet lain di alam raya, komet Halley, sebagaimana terlihat di atas, juga bergerak mengikuti orbit atau garis edarnya yang telah ditetapkan. Komet ini memiliki garis edar khusus dan bergerak mengikuti garis edar ini secara harmonis bersama-sama dengan benda-benda langit lainnya. Menurut Harun Yahya, terdapat sekitar 200 miliar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan.

Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah “berenang” sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya. Semua benda langit termasuk planet, satelit yang mengiringi planet, bintang, dan bahkan galaksi, memiliki orbit atau garis edar mereka masing-masing. Semua orbit ini telah ditetapkan berdasarkan perhitungan yang sangat teliti dengan cermat. Yang membangun dan memelihara tatanan sempurna ini adalah Allah, Pencipta seluruh sekalian alam. Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa.

Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan. Fenomena itu telah disebutkan dalam Alquran sejak abad ke-7 M. Padahal, pada zaman itu manusia tidak memiliki teleskop ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Dalam Alquran disebutkan matahari dan bulan masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

Simak firman Allah SWT dalam surah Al-Anbiya [21] ayat 33: ”Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

Disebutkan pula dalam surah Ya Sin [36] ayat 38: ”Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” Menurut Alquran, keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar: “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.” (QS Az-Zariyat [51]:7)