Tampilkan postingan dengan label manusia beruntung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia beruntung. Tampilkan semua postingan

JADILAH MANUSIA YANG BERUNTUNG

nuurislami.blogspot.com Tidak akan hidup hati seorang Muslim, kecuali dipelihara dengan baik oleh sang pemilik. Cara memelihara hati agar terus hidup hingga kita menghadap keharibaan-Nya, tiada lain dengan senantiasa menggunakan akalnya untuk berfikir dan hati untuk berdzikir. Perpaduan dari kedua amalan tersebut akan menjadikan seorang Muslim menjadi insan ulul albab. Yaitu insan yang apabila melihat, mendengar, atau merasa dia berfikir. Pada saat bersamaan, saat ia berdiri, duduk, berbaring, dia terus berdzikir. Inilah manusia yang memahami hakikat kehidupan, sehingga tidak ada fokus utama baginya melainkan berlindung kepada Allah dari panasnya api neraka, karena kelalaian dan kesombongan (QS. 3 : 190, 191).

Orang demikian adalah orang yang hidup hatinya. Hanya ulul albab yang akan bisa melihat dan meyakini sepenuh hati tentang kebesaran Allah. Dan, karena itu ia akan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Jadi, hatinya dikuasai dan dikendalikan oleh ilmu (hidayah), bukan ambisi atau pretensi dan obsesi, sehingga kelak ia akan meraih kesempunaan nikmat di dalam surga-Nya.

 “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. 79 : 40, 41).

Jadi, untuk menghidupkan hati, setiap Muslim harus membangun tradisi dzikir dan fikir yang berkualitas. Yaitu berdzikir dan berfikir yang setiap saat menjadikan kita semakin siap menjadi Muslim kaffah, semakin bergairah dalam menegakkan kebenaran, semakin percaya diri menjadi seorang Muslim, semakin antusias mempersiapkan kematian, dan semakin rindu bertemu dengan Allah.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. 13 : 28).

Tanpa dzikir dan fikir yang berkualitas, seorang Muslim rawan dalam badai gelombang kehidupan, sehingga goyah keimanan dan keislamannya. Jika hal itu benar terjadi, khawatir hatinya akan mengeras seperti batu dan mendapat kemurkaan Allah.

 “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. 39 : 22).

Orang itu bertanya, apa yang dimaksud dengan dibukakan hati itu? Nabi pun bersabda, “Yaitu kelapangan. Sesungguhnya jika cahaya telah dipancarkan ke dalam hati, maka dada menjadi lapang dan terbuka dari menerima rahmat-Nya”. Jadi, mari kita pelihara hati kita agar tetap hidup dalam naungan cahaya Ilahi. Sungguh, keimanan yang ada sekarang pada kita semua adalah nikmat tiada tara. Maka, janganlah disia-siakan. Perbanyaklah berpikir, bahwa dengan iman dalam hati, sebenarnya Allah telah janjikan surga kepada kita. Tetapi jika tidak, kita bisa salah dan tersesat. Betapa ruginya kita jika sudah diberi nikmat iman kemudian kita tidak syukuri dengan membiasakan dzikir dan fikir.

 Sementara, Allah telah memberikan peluang sangat besar bagi kita untuk meraih kebahagiaan dan keuntungan berlipat-lipat diakhirat kelak. Cara berpikir yang seharusnya dilakukan orang yang memiliki akal adalah menobati dosa-dosanya dimasa lampau, menyedikitkan lamunan dan panjang angan-angan, mempercepat tobat, meninggalkan yang dilarang, dan sabar mengekang hawa nafsu. “Apakah kamu tidak berpikir,” demikian sindir Allah di beberapa penghujung ayat-ayat suci Al-Qur’an. Lalu apa saja keuntungan yang didapat bagi orang yang berpikir dan berdzikir?

 KEUNTUNGAN BAGI YANG BERDZIKIR

 قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَ
 “Beruntunglah orang yang telah mensucikan hatinya dan merugilah orang yang telah mengotorinya”. (Q.S. 91 As-Syamsi: 9-10)

 Itulah sebabnya pada ayat di atas Allah memuji orang-orang yang telah mensucikan hatinya dengan cara berdzikir, sebab hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinya yang dapat mengenal Allah. Adapun orang-orang yang mengotorinya tidak akan pernah dapat mengenal Tuhannya.

KEUNTUNGN BAGI YANG BERFIKIR

 “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. 10 : 100).

 Suatu hari seorang sahabat Nabi SAW, Miqdad Ibnu Al-Aswad berjumpa dengan Abu Hurairah r. a, lalu beliau mengkhabarkan kepada Miqdad: “ Aku mendengar Rasulullah memberitahu kepadaku, sesiapa yang berfikir satu saat maka itu terlebih baik daripada beribadah setahun” Miqdad berlalu dan berjumpa pula dengan Ibnu Abbas, lalu dikhabarkan kepada Miqdad “ Aku mendengar bahawa Rasulullah SAW memberitahu kepadaku, barang siapa yang berfikir satu saat maka ia terlebih baik daripada beribadat tujuh puluh tahun.”

Miqdad keliru dengan perkhabaran dua sahabat tadi, karena apa yang disampaikan oleh kedua-duanya berbeda. Lantas beliau mengadukan hal ini kepada baginda Nabi SAW. Baginda mengarahkan supaya memanggil Abu Hurairah dan Ibnu Abbas berjumpa dengannya, baginda bertanya kepada Abu Hurairah: “ Bagaimana cara engkau berfikir?” Jawab Abu Hurairah: “ Aku memikirkan tentang tujuh lapis langit dan bumi (mendatangkan rasa keagungan kepada Allah dalam diri)”.

Maka jawab baginda: “ Benar, engkau mendapat berfikir sesaat lebih baik daripada beribadat setahun.” Sabdanya lagi, “ Telah turun al-Quran kepadaku, rugilah bagi mereka yang membaca al-Quran tapi tidak memikirkannya.” Lalu baginda bertanya pula kepadan Ibnu Abbas tentng apa yang difikirkannya. Jawab Ibnu Abbas:
“ Aku memikirkan tentang kematian dan huru-haranya saat itu.” Lalu baginda menjawab: “Benar, berfikir begitu maka engkau mendapat kelebihan sesaat berfikir maka terlebih baik daripada beribadat 70 tahun.” Berdasarkan sirah dan hadis-hadis di atas dapatlah di simpulkan bahawa memikirkan sesat adalah mempunyai dua kebaikan iaitu :

Pertama : Memikirkan penciptaan tujuh lapis langit dan bumi oleh Allah SWT akan mendapat kebaikan (pahala) seolah-olah beribadah selama setahun. Kedua : Memikirkan tentang kematain dan seksa kubur dan kehidupan di alam barzakh akan mendapat kebaikan (pahala) seolah-olah beribadah selama 70 tahun. Uraiannya : Pertama : Memikirkan sesaat penciptaan tujuh lapis langit dan bumi oleh Allah SWT akan mendapat kebaikan (pahala) seolah-olah beribadah selama setahun. Firman Allah SWT maksudnya :

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari seksa neraka'.'' (Ali 'Imran: 190-191).

Suatu malam Rasulullah SAW meminta izin kepada isterinya, Aisyah, untuk solat malam. Dalam solatnya, baginda menangis. Air matanya mengalir deras. Baginda terus beribadah hingga sahabat Bilal mengumandangkan azan Subuh. Baginda masih menangis saat Bilal datang menemuinya. ''Mengapa tuan menangis?'' tanya Bilal. ''Buankah Allah telah mengampuni dosa-dosa tuan baik yang lalu maupun yang akan datang?'' Nabi SAW menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis, telah diturunkan kepadaku malam tadi ayat ini,

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.'' (Ali 'Imran: 190-191).

Selanjutnya Rasullullah bersabda : "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikirkan dan merenungkan kandungan artinya" Alam semesta, merunjuk pada dua ayat di atas, ia adalah ayat, yaitu tanda kekuasaan Allah SWT. Sebagai ayat, alam semesta ini harus dibaca dan dipelajari hingga menimbulkan iman dan kekaguman (khasy-yah) yang makin besar kepada al-Khaliq. Nabi pernah memberikan arahan agar manusia tidak memikirkan Zat Allah, tetapi cukup merenungkan alam ciptaan-Nya. Kata baginda, ''Fikirkanlah ciptaan Allah, dan jangan memikirkan Zat Allah.'' Jadi, ayat-ayat Allah itu ada dua maksud.

Pertama, ayat-ayat berupa Kitab Suci (qauliyah). Kedua, ayat-ayat berupa alam semesta sebagai ciptaan Allah (kauniyah).

Menurut ahli falsafah muslim, Ibn Rusyd, alam semesta justru merupakan ayat-ayat Allah yang pertama. Dikatakan demikian, kerana sebelum Allah SWT menurunkan Kitab Taurat, Injil, dan al-Quran, Allah telah menciptakan alam semesta ini. Kerana alam adalah ayat, maka sebagaimana sepotong firman adalah ayat, maka sejengkal alam juga ayat. Sebagai ayat, alam ini selalu bergerak memenuhi tujuan penciptaan. Kerana itu, penelitian terhadap alam diduga kuat dapat mengantar manusia menemukan dan meyakini wujud Allah dan kuasa-Nya. Sebagai ayat, alam ini juga mengandung hukum-hukum Allah yang dalam istilah al-Quran dinamakan takdir dan sunatullah.

Kedua : Memikirkan tentang kematian dan seksa kubur dan kehidupan di alam barzakh akan mendapat kebaikan (pahala) seolah-olah beribadah selama 70 tahun. Siapa pun tidak dapat menduga kapan saat kematian mereka tiba. Karena itu ramai yang masih lalai dan tidak punya bekal 'menanti' saat kematian mereka. Allah berfirman yang bermaksud:

 "Setiap yang hidup akan merasai mati, dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan; dan kepada Kamilah kamu akan kembali." (Surah al-Anbiyak ayat 35)

Memikirkan kematian adalah satu cara untuk membersihkan hati yang berkarat yang cinta kepada dunia. Daripada Ibnu Umar r.a berkat, Rasulullah SAW bersabda maksudnya :

"Sesungguhnya hati manusia akan berkarat seperti besi yang dikaratkan oleh air. Apakah cara untuk menjadikan hati bersinar semula. Katanya dengan banyak mengingati mati dan membaca Al-Quran.” (Hadis Riwayat Baihaqi) Saidina Uthman bin Affan pernah mengiringi jenazah ke kubur.

Tiba-tiba apabila sampai ke kubur, dia pingsan dan diusung balik ke rumah pula. Lalu, sahabatnya bertanya apakah yang menyebabkan beliau pingsan. Jawab Uthman, aku teringat yang Rasulullah SAW pernah bersabda “Sesungguhnya kubur itu adalah penginapan yang pertama antara penginapan akhirat, sekiranya seseorang itu terlepas dari siksaannya maka apa yang akan datang kemudiannya adalah lebih mudah lagi. Seandainya seseorang itu tidak terlepas daripada siksaannya, maka yang akan mendatang adalah lebih sukar lagi”. Terdapat lagi satu hadis riwayat Tirmizi yang berbunyi, Rasulullah ada bersabda maksudnya :
"Kubur itu sama dengan satu taman daripada taman-taman syurga atau satu lubang daripada lubang-lubang neraka. (Hadis Riwayat Tirmizi).”

CIRI MANUSIA BERAKAL


Apa peran akal sebenarnya dalam kehidupan manusia secara keseluruhan, mengapa Allah mengistimewakan manusia yang berakal atau seperti yang biasa disebut dalam al quran beberapa kali ditujukan pada “manusia yang berpikir”.Seberapa besar manfaat akal ini bagi manusia atau bahkan bagi keberlangsungan mahluk hidup lainnya yang ada di muka bumi ini jika memang memiliki tujuan dan manfaat.

Sebagaimana kita ketahui, manusia memiliki akal yang dinamis. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis sehingga hanya mengetahui hal-hal yang diajarkan langsung oleh Allah saja. Tapi meski manusia dibekali akal yang sempurna, organ ini dianggap masih memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Salah satu kelemahan akal manusia adalah, dalam hal mendefiniskan kata-kata yang tertera dalam al-quran, perbedaharaan kata dan kosa kata yang dimiliki akal manusia sangat terbatas atau memiliki keterbatasan, misalnya dalam mendefiniskan kata alam semesta raya, yang dimaksud al quran mungkin jauh lebih besar dan lebih luas dari apa yang dipikirkan manusia, namun itu tidak bisa dijabarkan atau didefinisikan sesuai dengan yang ada dalam al quran, karena akal manusia memiliki keterbatasan. Akal ini tidak bisa memberikan padanan kata yang sesuai dengan arti kata yang di maksud oleh al quran.

Akal memang diciptakan sebagai bagian penunjang bertugas mengarahkan organ tubuh lainnya untuk melakukan aktivitas berjalan misalnya, dengan cara mengirim signal kepada organ kaki untuk bergerak dan menuju lokasi yang diinginkan. Fungsi akal yang lain adalah ia mampu mengatur urutan suatu rangkaian dengan sangat rinci, beraturan dan bersesuaian tergantung jenis kebutuhannya. Akal juga mampu bergerak maju mundur dan bolak balik sehingga ia menemukan titik temu yang sesuai, selama ia terus menerus diberi stimulus. latihan dan pemahaman, maka akal akan mampu membawa pelakunya menjadi pribadi yang cerdas.


Disamping itu bukan hanya manusia yang dibekali akal, binatang pun memiliki otak dan akal untuk menjalankan kehidupannya. Lalu apa bedanya otak yang dimiliki manusia dengan yang di miliki hewan. Pada kenyataannya ternyata ada banyak hewan yang sudah dikategorikan hewan cerdas dan pintar setelah mereka mendapat pelatihan secara terus menerus, misalnya kera atau orang utan, burung gagak, burung kaka tua, ikan lumba-lumba, dan lain sebagainya yang dianggap memiliki kecerdasan sama halnya manusia. Lalu jika memang hewan pun memiliki akal dan mereka juga mendapat julukan mahluk cerdas yang selalu menggunakan akalnya dalam kegiatan mencari makanan, mencari tempat tinggal, mencari pasangan, berkembang biak dan lain sebagainya. ini berarti akal yang dimaksud di sini juga memiliki kesamaan fungsi dengan yang dimiliki manusia.

Lalu pada sisi mana yang membedakan dan kelebihan apa yang dimiliki akal manusia jika dibanding dengan hewan? Jawabannya, ternyata akal manusia tidak berdiri sendiri, ia bukan organ yang bisa diberi tanggung jawab besar, diantaranya mengambil keputusan dan memberi hikmah, ia memang bisa banyak belajar dan menjadi terlatih, berkat kerja keras berusaha sekuat tenaga melakukan banyak latihan, berbagai pengulangan, melakukan pengujian dan sebagainya. Namun akal tidak bisa mengambil kesimpulan, tidak bisa mengembangkan pemikiran, fungsi ini ada di hati. Hanya dalam hati yang  bersungguh-sungguh maka akan ada petunjuk dan pemahaman. Hati adalah tempat menyerap, menyaring dan mengembangkan sebuah gagasan. Hati adalah tempat datangnya hikmah.


Lalu bagaimana islam memandang tingkat kecerdasan manusia? Dari sisi apa dan dalam hal apa manusia dianggap berhasil menggunakan akalnya sehingga ia bisa dikategorikan manusia cerdas melebihi kecerdasan yang dimiliki hewan. Dalam berbagai firman-Nya Allah selalu mengajak manusia ke jalan lurus sehingga ia bisa menjadi manusia yang tinggi derajatnya. Ketinggian derajat dalam hal apa sehingga allah mengistimewakan manusia yang berakal ini untuk layak disebut mahluk yang layak dijadikan acuan atau contoh yang baik untuk diikuti oleh mahluk lain. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firmanNya:

لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ “…terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…”

Allah berfirman: إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (‘Aali ‘Imraan: 190-191)

al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firmanNya:

لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ “…terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…”

Apa saja tanda bagi orang berakal, berikut uraiannya:
Yaitu mereka mempunyai akal yang dinamis banyak digunakan untuk mengamati, mempelajari, memperhatikan, menggali dan mengkaji berbagai bidang keilmuan tentang alam semesta secara terus menerus, baik pagi siang dan malam hanya digunakan untuk menjelajahi berbagai sistem tata surya misalnya, maka dengan ijin dan petunjuk allah melalui hatinya kemudian allah menyelipkan hikmah dan intisari dari semua tindakannya itu bahwa semua proses penciptaan alam semesta ini pada akhirnya akan bermuara pada kekuasaan allah semata. Bahwa pada akhirnya manusia akan menjadi saksi akan adanya kebesaran allah di alam semesta ini.


Allah memang melebihkan kemampuan akal manusia, jauh lebih baik daripada akal mahluk lain, semata-mata karena ingin mengajak manusia mengenal lebih banyak lagi hasil karya ciptaan allah yang maha agung dan maha dahsyat ini. Allah ingin manusia mengenal lebih luas lagi dan memahami betapa banyaknya karunia allah limpahkan di alam ini, tidak hanya sebatas yang ada di muka bumi, tetapi seluruh alam ini; bumi, bulan, bintang, matahari, ribuan galaksi bertebaran di angkasa, semua itu ada maksud dan tujuannya. Peristiwa ini tidak bisa dilakukan oleh malaikat dan bangsa jin, karena sumber daya mereka terbatas. Disamping manusia juga diberikan kemampuan melihat dan membaca (melalui dzat al bashirah) lebih cermat dan teliti karena disaat bersamaan juga allah mencurahkan karunianya dalam bentuk pemahaman dan hikmah yang masuk melalui indera pendengarannya (dzat al sammi) tentang kedalaman ilmu ke dalam relung hatinya sehingga manusia dapat membuka lebih luas lagi berbagai bidang ilmu kebathinan yang sesungguhnya itu jauh lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan jauh lebih besar kemaslahatannya dibanding ilmu-ilmu pengetahuan yang didapatnya saat ini.


Allah berfirman tentang mereka: وَكَأَيِّن مِّنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
‪.‬ وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (Yusuf 105-106)

Kemudian Allah menyebutkan sifat Ulul Albaab (orang-orang yang berakal) dengan firmanNya: الَّذِينَ
يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring

Maksudnya, ketika mereka tidak putus-putusnya belajar, berusaha sungguh-sungguh mengamati dan mencari hikmah yang terpendam di dalamnya maka allah juga memberi mereka jalan pemahaman melalui hatinya. Yang dimaksud orang yang mengingat allah sambil berdiri, duduk dan berbaring adalah karena akal mereka tidak pernah tidur, akal mereka senantiasa terjaga meski raga mereka terlelap, akal mereka terus menerus tersambung dengan hati, bergerak bolak-balik dan maju mundur
sehingga akal dapat menemukan kesesuaian tahapan dan proses pada sebuah objek yang sedang diamati, proses ini akan terus berlangsung tidak mengenal waktu sehingga pada akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa di sana ada dzat yang Maha Kuasa.


Allah berfirman: وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ . وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (adz Dzaariyaat 20-21)

Qatadah berkata: “Barangsiapa yang memikirkan penciptaan dirinya sendiri, tahulah dia bahwa dirinya itu hanyalah diciptakan dan persendiannya dilenturkan semata-mata untuk melakukan peribadatan (kepada Allah)” (Tafsir Ibnu Katsir)


Tidak akan hidup hati seorang Muslim, kecuali dipelihara dengan baik oleh sang pemilik. Cara memelihara hati agar terus hidup hingga kita menghadap keharibaan-Nya tiada lain dengan senantiasa menggunakan akal untuk berfikir dan hati untuk berdzikir. Perpaduan dari kedua amalan tersebut akan menjadikan seorang Muslim menjadi insan ulul albab. Yaitu insan yang apabila melihat, mendengar, atau merasa dia berfikir. Pada saat bersamaan, saat ia berdiri, duduk, berbaring, dia terus berdzikir. Inilah manusia yang memahami hakikat kehidupan, sehingga tidak ada fokus utama baginya melainkan berlindung kepada Allah dari panasnya api neraka, karena kelalaian dan kesombongan (QS. 3 : 190, 191).

Orang demikian adalah orang yang hidup hatinya. Hanya ulul albab yang akan bisa melihat dan meyakini sepenuh hati tentang kebesaran Allah. Dan, karena itu ia akan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Jadi, hatinya dikuasai dan dikenalikan oleh ilmu (hidayah), bukan ambisi atau pretensi, sehingga kelak ia akan meraih kesempunaan nikmat di dalam surga-Nya.

 “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. 79 : 40, 41).

Jadi, untuk menghidupkan hati, setiap Muslim harus membangun tradisi dzikir dan fikir yang berkualitas. Yaitu berdzikir dan berfikir yang setiap saat menjadikan kita semakin siap menjadi Muslim kaffah, semakin bergairah dalam menegakkan kebenaran, semakin percaya diri menjadi seorang Muslim, semakin antusias mempersiapkan kematian, dan semakin rindu bertemu dengan Allah.  

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. 13 : 28).

 Tanpa dzikir dan fikir yang berkualitas, seorang Muslim rawan dalam badai gelombang kehidupan, sehingga goyah keimanan dan keislamannya. Jika hal itu benar-benar terjadi, khawatir hatinya akan mengeras seperti batu dan mendapat kemurkaan Allah.

 “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. 39 : 22).

 Orang itu bertanya, apa yang dimaksud dengan dibukakan hati itu? Nabi pun bersabda, “Yaitu kelapangan. Sesungguhnya jika cahaya telah dipancarkan ke dalam hati, maka dada menjadi lapang dan terbuka dari menerima rahmat-Nya”. Jadi, mari kita pelihara hati kita agar tetap hidup dalam naungan cahaya Ilahi. Sungguh, keimanan yang ada sekarang pada kita semua adalah nikmat tiada tara. Maka, janganlah disia-siakan.Perbanyaklah berpikir, bahwa dengan iman dalam hati, sebenarnya Allah telah janjikan surga kepada kita.Tetapi jika tidak, kita bisa salah dan tersesat.

 “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. 10 : 100).

Betapa bodohnya kita jika sudah diberi nikmat iman kemudian kita tidak syukuri dengan membiasakan dzikir dan fikir. Sementara, Allah telah memberikan peluang sangat besar bagi kita untuk meraih kebahagiaan.“Apakah kamu tidak berpikir,” demikian sindir Allah di beberapa penghujung ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Hal ini sudah dibuktikan oleh sebuah hasil riset Harun Yahya tentang tata surya:

Orbit Tata Surya


Menurut seorang Ilmu Astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti bahwa matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana. Sebagaimana komet-komet lain di alam raya, komet Halley, sebagaimana terlihat di atas, juga bergerak mengikuti orbit atau garis edarnya yang telah ditetapkan. Komet ini memiliki garis edar khusus dan bergerak mengikuti garis edar ini secara harmonis bersama-sama dengan benda-benda langit lainnya. Menurut Harun Yahya, terdapat sekitar 200 miliar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan.

Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah “berenang” sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya. Semua benda langit termasuk planet, satelit yang mengiringi planet, bintang, dan bahkan galaksi, memiliki orbit atau garis edar mereka masing-masing. Semua orbit ini telah ditetapkan berdasarkan perhitungan yang sangat teliti dengan cermat. Yang membangun dan memelihara tatanan sempurna ini adalah Allah, Pencipta seluruh sekalian alam. Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa.

Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan. Fenomena itu telah disebutkan dalam Alquran sejak abad ke-7 M. Padahal, pada zaman itu manusia tidak memiliki teleskop ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Dalam Alquran disebutkan matahari dan bulan masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

Simak firman Allah SWT dalam surah Al-Anbiya [21] ayat 33: ”Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

Disebutkan pula dalam surah Ya Sin [36] ayat 38: ”Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” Menurut Alquran, keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar: “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.” (QS Az-Zariyat [51]:7)